ShoutMix chat widget

Sabtu, 02 April 2011 | 0 komentar


Jutaan Ulat Bulu Serang Warga Probolinggo - Berita Harian, Jika Indonesia kini sedang diteror oleh kiriman paket bom, berbeda dengan kota Probolinggo di Jawa Timur yang heboh dengan teror jutaan ulat bulu yang menyerang warga setiap harinya. Fenomena ini dapat dikatakan aneh karena secara bersamaan telah menyerang tujuh desa sekaligus di Probolinggo. Akibatnya, warga terpaksa harus membersihkan pekarangan rumah mereka hampir dua jam setiap pagi dan sore.


Sudah seminggu ini warga desa Sumber Ulu, Leces, Kedawung, Pondok Hulu, Tegasan, Malasan, dan Kerpangan diresahkan oleh serangan ribuan ulat bulu yang terjatuh dari pohon. Mereka terpaksa membersihkan pekarangan rumah mereka setiap hari karena ulat bulu tersebut telah merusak tanaman mereka, dan bahkan telah memaksa masuk ke pekarangan rumah dan bagian dalam rumah warga.

Tidak sedikit warga yang merasa gatal-gatal akibat bulu pada ulat yang berterbangan. Hal ini pun memperparah kondisi warga di tujuh desa tersebut. Bahkan banyak warga yang mengungsi ke rumah kerabatnya untuk menghindari wabah gatal-gatal tersebut. Warga berharap pemerintah daerah setempat turun tangan untuk mengatasi wabah ini. Sementara itu, serangan ulat bulu ini tidak hanya membuat khawatir warga setempat, warga dari desa yang berdekatan pun mulai merasa resah akan serangan jutaan ulat bulu tersebut.

Hah... Ada Ular Bisa Terbang!

Kamis, 25 November 2010 | 0 komentar


Hah, ada ular yang bisa terbang! Tenang, hanya ular yang termasuk dalam genus Chrysopelea yang bisa terbang, tak semuanya. Ular dalam genus tersebut mampu terbang—atau tepatnya melenting—dengan cara meluncur sambil meliuk dari pohon satu ke pohon lainnya hingga sejauh 79 kaki atau 24 meter. Ditemukan bahwa habitat ular golongan tersebut ada di Asia Tenggara dan Asia selatan.

Bagaimana ular itu bisa terbang? Hal itu diuraikan dalam presentasi penelitian dalam pertemuan American Physical Society Division of Fluid Dynamics kemarin, (22/11/2010).

"Ular ini tidak sedang melawan gravitasi ketika terbang, juga bukan melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Adalah persoalan gaya yang dikerahkan oleh ular yang menjadi penyebabnya," kata Jake Socha, pemimpin proyek penelitian ini saat diwawancara Discovery.

Untuk sampai pada kesimpulan itu, Socha bersama rekannya mencoba "meluncurkan" ular jenis tersebut dari gedung berketinggian 49 kaki. Mereka merekam setiap gerakan dari ular tersebut. Kemudian, mereka mengembangkan model matematis yang mengungkapkan cara ular terbang.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diterima oleh Jurnal Bioinspiration & Biomimetics, Socha menjelaskan bahwa ular itu akan mengatur posisi tubuhnya sesaat sebelum terbang dan pada saat terbang.

Sesaat sebelum terbang, ular tersebut akan menjulurkan salah satu ujung badannya ke depan dan membentuk huruf J. Setelah itu, barulah si ular memulai melompat ke depan dan mempercepat gerakannya sehingga bisa terbang.

Ketika si ular terbang, ia akan mengerahkan gaya ke atas dari gerakannya sehingga membuatnya tak langsung jatuh. "Ular tetap terangkat ke atas walaupun ia bergerak ke bawah. Ini karena gaya yang mengarah ke atas lebih besar daripada berat badan ular," kata Socha. Ular akan terbang miring 25 derajat dari aliran udara yang tercipta oleh gerakannya. Bagian ekornya akan terus bergerak-gerak, sementara bagian lain akan membentuk lengkungan, seperti liukan ular ketika melata di atas tanah.

"Jika ular tetap pada kondisi seperti itu, ia akan terus terbang ke atas. Namun, model terbang ular tersebut ternyata hanya sementara sehingga pada akhirnya ular tetap akan jatuh ke tanah mengakhiri luncurannya," kata Socha yang merupakan ahli biologi di Virginia Tech.

Menurut Socha, model terbang ular ini bisa menjelaskan cara meluncur beberapa spesies, termasuk mamalia dan ikan. Ke depan, penciptaan kendaraan tak berawak mungkin bisa dilakukan dengan meniru cara terbang luncur ular ini.

Makhluk Misterius dari Perairan Sulawesi

| 0 komentar


Para ilmuwan baru-baru ini menemukan makhluk misterius di kedalaman perairan antara Sulawesi dan Filipina. Makhluk tersebut memiliki tubuh yang menyerupai cacing dan cumi-cumi sehingga para ilmuwan menamainya squidworm atau cacing cumi. Ukuran makhluk misterius itu lebih kurang 9,4 sentimeter.

Cacing cumi itu memiliki sepuluh tentakel yang panjang, menyeruak dari kepalanya. Selain itu, ia juga memiliki enam organ yang disebut nuchal. Organ ini memungkinkannya untuk mengecap rasa dan membaui sesuatu di dalam air.

Makhluk misteriusitu ditemukan oleh tiga ahli biologi laut yang dipimpin oleh Karen Osborn dari Scripps Institution of Oceanography in California. Mereka menemukan spesies baru ini setelah melakukan eksplorasi di Laut Sulawesi pada kedalaman 2,8 kilometer menggunakan kapal penjelajah yang dikendalikan dari jarak jauh.

"Saya sangat gembira. Hewan ini sangat menggoda sebab sangat berbeda dengan ciri-ciri hewan yang telah dideskripsikan sebelumnya. Hewan ini punya bagian kepala yang fantastis," ungkap Osborn.

Cacing cumi yang ditemukan oleh ilmuwan tersebut hidup pada kedalaman 100-200 meter di atas dasar laut. Rentang kedalaman itu diketahui merupakan wilayah yang kaya akan spesies yang belum teridentifikasi.

"Ketika saya mengeksplorasi wilayah tersebut, saya memperkirakan ada lebih dari setengah jumlah hewan yang kita lihat merupakan spesies yang belum teridentifikasi," lanjut Osborn.

Cacing cumi yang baru ditemukan itu diberi nama ilmiah Teuthidodrilus samae. Spesies tersebut dikatakan bukan merupakan predator. Mereka memakan campuran tumbuhan dan hewan mikro laut yang tenggelam di kedalaman.

Laut Sulawesi tempat spesies ini ditemukan merupakan wilayah yang terisolasi dari perairan di sekitarnya. Selain itu, kawasan tersebut termasuk dalam kawasan konservasi yang memiliki beranekaragam bentuk kehidupan dan sejarah geologi yang unik.

Cacing cumi yang ditemukan di wilayah tersebut bukan hanya merupakan spesies baru. Sifat-sifat cacing cumi tersebut sangat berbeda dari bentuk kehidupan yang lain sehingga tak hanya membutuhkan nama spesies baru, tetapi juga genus baru, tingkatan taksonomi di atas spesies. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Biology Letters baru-baru ini.

Banjir Bandang Ancam Asia Timur

Kamis, 15 Juli 2010 | 0 komentar


Hujan deras dan angin kencang yang melanda Asia Timur, Kamis (15/7/2010), memaksa pihak berwenang mengungsikan ratusan ribu orang dari rumah mereka di Jepang, sementara China bersiaga menghadapi banjir terburuknya dalam beberapa tahun.

Di Filipina, aliran listrik di sekitar Manila secara berangsur pulih setelah Topan Conson menghantam ibu kota Filipina itu pada Selasa malam dan menewaskan 23 orang serta belasan orang lainnya hilang. Badan Risiko Badai Tropis menurunkan tingkat topan itu menjadi badai tropis, Kamis, tetapi biro cuaca Filipina mengatakan, pihaknya memperkirakan topan itu akan meningkat kekuatannya ketika berada di Laut China Selatan yang menuju China selatan dan Vietnam utara.

Conson diperkirakan akan menghantam daratan pada Jumat malam, kata laman internet Risiko Badai Tropis. Topan dan badai tropis sering menghantam Filipina, Taiwan, dan Jepang dalam pertengahan kedua setiap tahun. Topan dan badai tropis itu menghimpun kekuatan dari air yang hangat di Samudra Pasifik atau Laut China Selatan sebelum biasanya melemah di daratan.

Kantor berita Jepang, Kyodo, mengatakan, pemerintah-pemerintah lokal merekomendasikan sekitar 300.000 orang dievakuasi dari rumah mereka, sedangkan Badan Meteorologi meramalkan hujan deras akibat sistem cuaca terpisah untuk daerah barat dan timur negara itu akan turun pada Kamis malam.

China bersiap menghadapi banjir terburuk sejak tahun 1998, ketika ribuan orang tewas, sedangkan hujan terus mengguyur di hulu dan tengah Sungai Yangtze. "Kendatipun situasi di Sungai Yangtze sekarang masih belum mencapai tingkat bahaya, keadaannya sangat membahayakan," kata surat kabar China Daily yang mengutip pernyataan pejabat senior urusan banjir, Wang Jingguang.

"Jika hujan lebat menghantam daerah hulu Sungai Yangtze, ditambah dengan hujan di tengah dan hilir, banjir seperti yang terjadi tahun 1998 akan terulang," kata Wang. "Tidak ada alasan untuk optimisme karena Topan Conson yang akan memasuki wilayah itu akan menambah situasi yang buruk dalam pengendalian banjir."

Banjir di Sungai Yangtze tahun 1998 menewaskan lebih dari 4.000 orang dan lebih dari 18 juta orang diungsikan, kata surat kabar itu. Hujan yang melanda daerah luas China selatan menewaskan 400 orang tahun ini.

Badai-badai pekan lalu di Provinsi Yunnan, Sichuan, dan Hunan menewaskan setidaknya 41 orang dan menyebabkan hampir 40 orang lainnya hilang, banyak yang terkubur tanah longsor.

Presiden Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao memerintahkan pemerintah-pemerintah lokal agar meningkatkan usaha pertolongan dan mendesak agar penduduk yang tinggal di daerah-daerah yang berada dalam ancaman banjir dan topan direlokasikan untuk menghadapi bencana alam itu.
 
© Copyright 2010-2011 YUDHA SPENSADO All Rights Reserved.
Design by Yuda Spensado | SMPN 1 Dolopo | Powered by Blogger.com.